Setyo : 2013 Tahun Booming Permintaan Rumah

Jakarta – Tahun ini diramalkan menjadi tahun booming atau melonjaknya permintaan terhadap berbagai produk perumahan setelah pada 2012 penjualan produk perumahan dinilai masih stagnan akibat ketidakjelasan regulasi.

Hal itu diyakini Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso dalam pembukaan BTN Property Expo 2013 di Jakarta, Sabtu (2/1). Untuk itu, pemerintah harus memastikan bahwa peraturan yang dikeluarkan tidak berubah-ubah karena kebutuhan perumahan rakyat masih besar.

Kebanyakan rumah yang dijual bak kacang goreng pada saat ini sekitar Rp200 juta hingga Rp600 juta. “Saya mengimbau bagi masyarakat inilah saatnya untuk membeli sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo mengatakan tahun ini merupakan tahun ‘balas dendam’ untuk mengejar sebanyak-banyaknya target yang tidak tercapai pada 2012.

Karena itu, Eddy mengharapkan berbagai pihak, terutama pemerintah, dapat bekerja di atas standar agar tidak ada lagi hambatan seperti terhambatnya penandatangangan akad jual beli.

Pasalnya, pada tahun depan merupakan tahun diselenggarakannya pemilu. Jadi, penjualan untuk 2013 bisa menutupi permasalahan yang kemungkinan bisa muncul pada 2014.

Sebelumnya, para pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) mengeluhkan kepada Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengenai masalah perizinan yang menambah beban biaya pembuatan rumah atau apartemen.

“Masih ada biaya resmi dan biaya tidak resmi yang perbedaannya bisa mencapai 1.000 persen. Jadi bila resminya hanya Rp300 ribu tetapi bisa menjadi Rp2,5 juta hingga Rp3 juta,” kata Ketua Umum REI Setyo Maharso dalam Rapat Kerja Nasional REI yang digelar di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari.

REI juga mempermasalahkan mengenai pungutan liar dan dana siluman yang kerap terjadi di berbagai tempat dengan alasan klasik antara lain untuk menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah). antara

Leave a Reply

Your email address will not be published.